Ternate, 15 April 2026 - Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Ternate melaksanakan Rapat Pemantapan Persiapan Keberangkatan Haji 1447 H/2026 M. Rapat ini merupakan bagian dari finalisasi persiapan keberangkatan haji untuk memastikan kelancaran pelayanan, baik dari aspek teknis, kesehatan, maupun operasional, serta pemantapan pelaksanaan di lapangan demi terwujudnya pelayanan prima kepada jamaah haji.
Dalam rapat tersebut, BKK Kelas I Ternate membahas kesiapan pelaksanaan tugas di lapangan, termasuk alur pelayanan kekarantinaan kesehatan, pembagian peran petugas, serta langkah antisipasi terhadap potensi kendala selama proses keberangkatan jamaah.
Selain itu, turut dibahas kesiapan sumber daya manusia, sarana dan prasarana, serta penerapan prosedur operasional sesuai standar guna mendukung pelayanan yang efektif dan terintegrasi.
BKK Kelas I Ternate juga menegaskan komitmen terhadap pelayanan yang profesional, transparan, dan berintegritas. Melalui rapat pemantapan ini, diharapkan seluruh jajaran memiliki kesiapan optimal dalam mendukung penyelenggaraan ibadah haji tahun 1447 H/2026 M sehingga jamaah dapat menjalankan ibadah dengan aman, sehat, dan nyaman.
Dokumentasi


Ternate - Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas I Ternate mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) Penyelenggaraan Angkutan Laut Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 yang dilaksanakan pada 15 November 2025 di Kantor KSOP Kelas II Ternate.
Rakor ini bertujuan memperkuat koordinasi lintas sektor guna menjamin keselamatan dan kelancaran angkutan laut selama periode Nataru yang berlangsung pada 18 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026.
Kepala KSOP Kelas II Ternate, Rushan Muhammad, S.T., M.Si, menekankan pentingnya kolaborasi antarinstansi sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing serta penerapan prinsip zero compromise for safety dalam penyelenggaraan angkutan laut selama Nataru.
Dalam Rakor tersebut, Plt. Kepala BKK Kelas I Ternate, Wahyudi S., menyampaikan kesiapan dalam memastikan pelaksanaan kekarantinaan kesehatan terhadap orang, barang, dan alat angkut selama periode Nataru 2025/2026. BKK Kelas I Ternate juga telah menyiapkan petugas di sejumlah pelabuhan di Kota Ternate, yakni Pelabuhan Dufa-Dufa, Pelabuhan Ahmad Yani, Pelabuhan Ferry, dan Pelabuhan Bastiong.
Selain itu, BKK Kelas I Ternate siap berkolaborasi di posko terpadu bersama tim kesehatan Polri dan puskesmas, serta memperkuat koordinasi dengan PT PELNI dalam penanganan penumpang sakit maupun jenazah.
Melalui Rakor ini, diharapkan sinergi lintas sektor semakin optimal guna mendukung penyelenggaraan angkutan laut yang aman, sehat, dan lancar selama Nataru 2025/2026.
Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas I Ternate melaksanakan kegiatan konsultasi teknis di Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Soekarno-Hatta pada tanggal 1-4 Desember 2025. Kegiatan ini diikuti oleh tiga pegawai, yaitu dr. Nurhidayati Suparno, Hasan Ahmad, S.ST, dan Sitti Mardiany D. Palipun, S.Tr.Kes. Selama berada di Tangerang, tim melakukan kunjungan langsung ke Terminal 2 dan Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan didampingi oleh Ketua Tim Kerja 1 beserta pegawai BBKK Soekarno-Hatta.
Pelaksanaan konsultasi teknis ini bertujuan untuk mempelajari secara mendalam sistem serta prosedur pelayanan kekarantinaan kesehatan yang diterapkan di salah satu bandara terbesar di Indonesia tersebut. Melalui observasi lapangan, diskusi teknis, dan pendampingan langsung, tim BKK Kelas I Ternate mendapatkan gambaran tentang alur pemeriksaan orang, barang, dan alat angkut, termasuk mekanisme respons terhadap potensi kedaruratan kesehatan di pintu masuk negara.
Seluruh pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama kegiatan ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam meningkatkan kualitas layanan kekarantinaan kesehatan di Bandara Internasional Weda Bay yang akan beroperasi dan berada dalam wilayah kerja BKK Kelas I Ternate. Dengan mengadopsi praktik terbaik yang diterapkan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, BKK Kelas I Ternate berkomitmen memperkuat kesiapsiagaan dan mutu pelayanan kesehatan di pintu masuk wilayah Maluku Utara.
Dokumentasi




Ternate, 27 November 2025 - Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara melakukan kunjungan kerja ke Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas I Ternate. Kunjungan ini dilaksanakan dalam rangka diskusi dan advokasi terkait aktivasi username dan password Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR), khususnya pada mekanisme pencatatan dan pelaporan event-based surveillance (EBS).
Dalam pertemuan tersebut, tim BKK Kelas I Ternate dan Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara membahas pentingnya optimalisasi akses SKDR bagi seluruh institusi kesehatan. Akses yang aktif diperlukan agar proses pelaporan kasus dapat dilakukan secara cepat dan tepat.
SKDR sendiri merupakan sistem yang digunakan untuk mendeteksi dini ancaman Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular. Sistem ini memberikan sinyal peringatan dini (alert) ketika jumlah kasus melebihi ambang batas, sehingga petugas kesehatan dapat segera melakukan respons cepat. Melalui sistem ini, upaya pengendalian penyakit dapat dilakukan lebih efektif guna meminimalkan kesakitan, mencegah kematian, serta memantau tren penyakit dari waktu ke waktu.
Secara umum, SKDR memiliki sejumlah manfaat, antara lain mendeteksi potensi KLB, mempercepat respons, mendukung pengendalian penyakit menular, meminimalkan dampak kesehatan masyarakat, memonitor tren penyakit, dan meningkatkan koordinasi lintas sektor.
Pertemuan ini diharapkan dapat memperkuat pelaksanaan surveilans di wilayah Maluku Utara. Dengan penginputan data yang dilakukan secara intensif dan konsisten, informasi serta alert yang muncul dapat segera ditindaklanjuti sehingga respons cepat dapat dilakukan untuk mencegah perluasan kasus.
Ternate, 20-21 Oktober 2025 - Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional (HKN) 2025 dengan tema “Transformasi Kesehatan untuk Indonesia Emas 2045”, Balai Kesehatan Karantina (BKK) Kelas I Ternate melaksanakan langkah nyata dengan memperkuat pengawasan terhadap penyakit menular di wilayah kerjanya.
BKK Kelas I Ternate menugaskan tiga petugas untuk melaksanakan pengawasan kesehatan di wilayah kerja Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara. Kegiatan difokuskan pada skrining Tuberkulosis (TB) dan pemeriksaan HIV/AIDS di sejumlah lokasi strategis, yaitu Pelabuhan Tobelo, Kantor UPP Tobelo, Pelabuhan Perikanan, dan Dinas Perikanan Kabupaten Halmahera Utara.
Selama dua hari pelaksanaan, petugas berhasil melakukan skrining TB terhadap 62 orang dan pemeriksaan HIV/AIDS terhadap 33 orang. Berdasarkan hasil Rapid Diagnostic Test (RDT), tidak ditemukan suspek TB maupun kasus positif HIV/AIDS. Hasil tersebut menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan diri dan lingkungan.
Selain pemeriksaan, petugas juga memberikan edukasi dan penyuluhan kesehatan kepada masyarakat. Kegiatan ini difokuskan pada upaya pencegahan penularan TB dan HIV/AIDS, serta pentingnya deteksi dini agar masyarakat dapat segera memperoleh penanganan apabila ditemukan gejala penyakit.
Melalui kegiatan ini, BKK Kelas I Ternate menegaskan komitmennya untuk mendukung transformasi sistem kesehatan nasional. Upaya pengawasan dan edukasi yang berkesinambungan diharapkan dapat membentuk masyarakat yang lebih sehat, tangguh, dan berdaya saing menuju Indonesia Emas 2045.
Dokumentasi :



Bandung, 15 Oktober 2025 - Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas I Ternate telah merampungkan partisipasinya dalam kegiatan Finalisasi Desk Rencana Kegiatan dan Anggaran Kementerian/Lembaga (RKAKL) Tahun Anggaran 2026 di lingkungan Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit (Ditjen P2) Kementerian Kesehatan. Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, sejak 13 hingga 15 Oktober 2025, di Wisma Sukajadi, Bandung, dan menjadi momentum penting bagi BKK Kelas I Ternate untuk memastikan alokasi anggaran yang optimal dalam mendukung pelaksanaan tugas cegah tangkal penyakit di pintu masuk negara wilayah Maluku Utara.
Selama proses desk, tim BKK Kelas I Ternate melaksanakan reviu dan pembahasan menyeluruh terhadap Term of Reference (TOR), Rencana Anggaran Biaya (RAB), serta data dukung kegiatan, guna memastikan setiap usulan program tersusun dengan dasar justifikasi teknis yang kuat, realistis, dan dapat dipertanggungjawabkan. Langkah ini menjadi bagian dari upaya peningkatan akuntabilitas dan transparansi dalam perencanaan anggaran, sesuai dengan arah kebijakan Kementerian Kesehatan.
Seluruh data anggaran BKK Kelas I Ternate juga telah difinalisasi dan diinput ke dalam sistem SAKTI, sehingga memastikan RKAKL Tahun Anggaran 2026 tersusun selaras dengan prioritas program nasional di bidang kekarantinaan kesehatan. Penyelarasan ini menjadi wujud dukungan BKK Kelas I Ternate terhadap program strategis pemerintah dalam memperkuat sistem pertahanan kesehatan di pintu masuk negara.
Dengan tuntasnya tahapan finalisasi RKAKL ini, BKK Kelas I Ternate menegaskan komitmennya untuk mengelola anggaran tahun 2026 secara efektif, efisien, transparan, dan bebas dari praktik KKN, sejalan dengan prinsip integritas yang diamanatkan oleh Kementerian Kesehatan. Finalisasi ini juga menjadi langkah strategis dalam memastikan kesiapan operasional BKK Kelas I Ternate menjaga wilayah kerjanya dari risiko penyakit dan faktor kesehatan lainnya sepanjang tahun 2026.
Dokumentasi :


Ternate, 14 Oktober 2025 - Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas I Ternate menyelenggarakan kegiatan Penyusunan Dokumen Rencana Kontinjensi di Bandara Sultan Babullah Ternate yang berlangsung selama dua hari, 13-14 Oktober 2025, bertempat di Muara Hotel Ternate.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Wahyudi, S.KM, selaku Plt. Kepala BKK Kelas I Ternate, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya kesiapsiagaan lintas sektor dalam menghadapi potensi Kedaruratan Kesehatan Masyarakat (KKM), khususnya di pintu masuk negara seperti bandara dan pelabuhan.
“Rencana kontinjensi ini merupakan dokumen strategis yang menjadi panduan bagi seluruh instansi terkait untuk bertindak cepat, terkoordinasi, dan tepat sasaran ketika kedaruratan kesehatan masyarakat terjadi di pintu masuk wilayah Maluku Utara,” ujar Plt. Kepala Balai dalam sambutannya.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari berbagai instansi, yaitu Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan, Ditjen Penanggulangan Penyakit (P2) Kementerian Kesehatan RI; Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Sultan Babullah Ternate; serta Dinas Kesehatan Kota Ternate, dengan moderator Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit (P2) Dinas Kesehatan Provinsi Maluku Utara.
Sebanyak 50 peserta dari berbagai instansi lintas sektor mengikuti kegiatan ini, termasuk perwakilan dari BKK Kelas I Ternate dan instansi teknis lainnya yang memiliki peran penting dalam penanganan kedaruratan kesehatan di pintu masuk negara.
Selama dua hari pelaksanaan, peserta melakukan pembahasan dan simulasi penyusunan dokumen rencana kontinjensi sebagai acuan bersama dalam menghadapi berbagai potensi ancaman kesehatan di bandara, seperti penyakit menular. Melalui kegiatan ini, BKK Kelas I Ternate berharap dapat memperkuat koordinasi, komunikasi, dan kolaborasi lintas sektor, serta memastikan setiap pihak memiliki peran yang jelas dalam sistem respons kedaruratan kesehatan masyarakat di Bandara Sultan Babullah.
“Kami berharap hasil penyusunan dokumen ini tidak hanya menjadi pedoman tertulis, tetapi juga dapat diimplementasikan secara nyata dalam operasional di lapangan,” ungkap salah satu narasumber dari Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes RI.
Kegiatan penyusunan dokumen rencana kontinjensi ini merupakan bagian dari program nasional Penguatan Kapasitas Kesiapsiagaan dan Respons terhadap Kedaruratan Kesehatan Masyarakat di Pintu Masuk Negara, yang sejalan dengan implementasi International Health Regulations (IHR) 2005. Seluruh pembiayaan kegiatan ini dibebankan kepada DIPA Balai Kekarantinaan Kesehatan Kelas I Ternate Tahun Anggaran 2025.
Dengan tersusunnya dokumen rencana kontinjensi ini, diharapkan koordinasi dan kesiapsiagaan lintas sektor di wilayah Bandara Sultan Babullah Ternate semakin kuat, sehingga mampu memberikan perlindungan maksimal terhadap masyarakat dari ancaman kedaruratan kesehatan masyarakat.
Silahkan download di link ini : https://publuu.com/flip-book/985586/2168235
Difteri adalah penyakit menular berbahaya akibat bakteri Corynebacterium diphtheriae yang menyerang tenggorokan, hidung, atau kulit, serta menghasilkan racun berbahaya yang dapat merusak jantung, saraf, hingga menyebabkan kematian bila tidak segera ditangani. Meski demikian, penyakit ini bisa dicegah dengan imunisasi lengkap sesuai jadwal.
Kelompok paling rentan antara lain anak di bawah 5 tahun yang belum diimunisasi, orang dewasa yang jarang melakukan vaksinasi ulang, serta masyarakat di daerah dengan cakupan vaksin rendah atau sedang terjadi wabah. Gejala biasanya muncul 2–5 hari setelah terpapar, seperti demam, sakit tenggorokan, leher membengkak, lapisan tebal keabu-abuan di tenggorokan atau hidung, dan badan terasa lemah. Penularan terutama melalui batuk, bersin, atau kontak dekat dengan pembawa bakteri.
Jika gejala muncul, segera cari pertolongan medis agar mendapat antitoksin dan antibiotik yang dapat menghentikan produksi racun serta mencegah penularan. Upaya pencegahan meliputi imunisasi DPT/DTaP dan booster, menjaga kebersihan, menghindari kontak dengan penderita, serta segera melapor bila ada kasus suspek. Khusus anak di bawah 5 tahun dengan gejala mirip difteri, terutama saat bepergian melalui bandara atau pelabuhan, diimbau segera melapor kepada petugas Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas I Ternate.
BKK Kelas I Ternate menegaskan, difteri adalah penyakit serius namun dapat dicegah. Dengan kepatuhan imunisasi dan kewaspadaan bersama, masyarakat dapat melindungi diri, keluarga, dan lingkungan sekitar dari ancaman penyakit ini.
Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan serius di Indonesia. Penyakit yang disebabkan oleh virus dengue ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti betina yang telah terinfeksi. Tingginya kasus DBD dipengaruhi faktor lingkungan dan perilaku masyarakat, terutama karena masih banyak tempat penampungan air seperti bak mandi, drum, tempayan, ember, dan tangki reservoir yang menjadi lokasi perkembangbiakan nyamuk.
Sebagai bagian dari tugas Surveilans Vektor dan Binatang Pembawa Penyakit di pintu masuk negara, Tim Kerja I Surveilans dan Penindakan Pelanggaran Kekarantinaan Kesehatan Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas I Ternate melakukan survei larva nyamuk Aedes sp di Pelabuhan Perikanan Nusantara Ternate pada September 2025. Kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa magang Poltekkes Kemenkes Ternate Prodi Sanitarian sebagai bentuk pembelajaran lapangan.

Mahasiswa magang Poltekkes Kemenkes Ternate melakukan identifikasi larva/jentik Aedes sp
Hasil survei menunjukkan House Index (HI) atau bangunan positif jentik mencapai 47,8 persen, Container Index (CI) sebesar 28,9 persen, dan Angka Bebas Jentik (ABJ) hanya 52,2 persen, jauh di bawah standar minimal 95 persen. Kondisi ini menandakan tingginya kepadatan jentik nyamuk yang berpotensi meningkatkan risiko penularan DBD di wilayah pelabuhan.
BKK Kelas I Ternate menghimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, rutin menguras tempat penampungan air, serta menyingkirkan barang bekas yang dapat menampung air hujan. Sementara itu, petugas kesehatan diharapkan terus melakukan survei rutin untuk memantau kepadatan jentik dan memperkuat langkah pencegahan.
Survei ini juga mengidentifikasi Aedes aegypti dan Aedes albopictus sebagai spesies dominan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Ternate. Melalui upaya berkelanjutan, diharapkan risiko penyebaran DBD dapat ditekan sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pencegahan sejak dini.
Dokumentasi Hasil Survei
Aedes Aegypti

Aedes Albofictus